Tuesday, May 22, 2012 @ 6:56 AM |
Miss You
by Fietha
Gadis itu terduduk di
sebuah kursi, dengan tangan yang berada di bingkai bawah jendelanya, menopang
kepalanya yang kini tengah menengadah menatap bulan purnama yang kini tengah
bersinar sangat terang. Pikirannya sedikit menerawang, melayang-layang entah kemana,
membawa serta lamunannya pergi ke suatu tempat yang sama sekali tak
disadarinya. Satu rasa di dalam hatinya begitu membuatnya tertekan, suatu rasa
yang membuatnya sedikit berimajinasi, seakan melihat sesosok pemuda di bulan
yang tengah bersinar terang tersebut.
Rindu. Gadis tersebut
sungguh merindukan sosok pemuda yang kini ada dalam bayangannya, selalu dalam
pikirannya, menyertainya dalam lamunannya. Berapa lama ia tak berjumpa dengan
pemuda tersebut? Satu hari? Dua hari? Satu minggu? Satu bulan? Rasanya sudah
lebih dari yang disebutkan tersebut. Satu tahun? Mungkin bisa dikatakan seperti
itu. Begitu lama bukan?
Kini, kepalanya yang sejak
tadi menengadah, ditopang oleh kedua lengannya, memilih tertunduk, menatap
hampa tanpa tujuan sesuatu di bawahnya. Matanya yang tadi terbuka kini tengah
terpejam, perlahan titik demi titik air matapun mulai turun membasahi wajah
cantiknya. Rasa sakit di dadanya kian menekannya, membuatnya lantas mencengkram
dadanya sendiri, menganggap dengan melakukan hal tersebut, rasa tersebut akan
sedikit menghilang. Tidak, gadis tersebut sama sekali tidak menderita sakit
fisik. Mungkin ia hanya menderita suatu sakit psikis yang
berkepanjangan—penyakit rindu yang teramat sangat dalam.
Ia pun kemudian memeluk
dirinya sendiri, seakan perlahan mengingatkannya akan kerinduannya merasakan
pelukan pemuda tersebut. Rindu merasakan belaian, ciumannya, suaranya
lembutnya, dan juga wajah tampannya. Kenapa ia harus berada begitu jauh
darinya? Kenapa ia harus pergi dan sulit untuk datang kembali? Kenapa ia kala
itu begitu rela melepaskannya pergi untuk waktu yang begitu lama, membiarkannya
kini hidup dalam kesendirian?
Tidak, gadis itu bukan
melakukannya tanpa alasan. Demi yang begitu dicita-citakan oleh pemuda
tersebut, ia rela melepaskannya sementara, merantau ke tempat yang sangat jauh.
Demi yang diimpikan oleh pemuda tersebut, ia rela menahan segala rasa
kerinduannya, menahan semua keinginannya untuk bertemu dengan pemuda tersebut.
Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunggu. Menunggu sampai pemuda
tersebut meraih semua yang dicita-citakan, lantas kembali padanya, memeluknya,
menciumnya, menatapnya, demi melepaskan semua rasa rindu yang selama ini begitu
tebal menempel pada dirinya.
Ya, menunggu. Intinya, ia
hanya harus sedikit lebih bersabar. Ia yakin, dengan kesabarannya, ia pasti
akan memperoleh timbal balik yang lebih dari yang diharapkannya. Ini semua
hanya masalah waktu bukan? Waktu pasti akan cepat berlalu. Pasti. Dan ia yakin,
penantiannya tidak akan sia-sia.
END
Ini hanyalah suatu kisah kecil yang dibuat sang author secara
tidak sengaja, terinspirasi dari perasaan sang author yang
kini merasa sedikit 'rindu' pada sosok salah satu idolanya. Malas membuat nama
siapa sang gadis dan siapa sang pemuda, terserah bagi pembaca ingin
membayangkan siapa saja itu—yang jelas ada baiknya tidak usah membayangkan
kalau itu kisah antara sang author dengan idola yang dirindukannya—TOLONG JANGAN!
Pendek, sangat pendek. Berhubung sang author saat
ini mengalami suatu ketidakmampuan untuk menemukan suatu ide cerita yang bagus.
Kenyataannya, ini hanya suatu keisengan belaka yang dibuat sang author hanya
karena ia sedang ingin menulis. Hahaha.
Labels: fiksi, original