Fiksi Fanfic: Future

Sunday, October 28, 2012 @ 5:03 AM | (0) comment/s

Future
by fietha


Kitayama Hiromitsu, tiga puluh satu tahun, hanya bisa tersenyum sambil memandang sosok pengantin berpakaian tuxedo hitam dan dress putih yang berjalan di depannya, ikut berbahagia seperti para undangan yang lainnya. Sesekali ia ikut bertepuk tangan, tersenyum lebar ketika melihat sang pengantin tersebut tersenyum ke arah para undangan. Namun, di antara senyumannya, ada satu perasaan lain—antara sedih, iri atau mungkin perasaan lain yang sejenisnya—yang seakan merasuki perasaannya saat ini.

Oh, bukan. Bukan perasaan seperti ketika seorang pemuda melihat mantan kekasihnya menikah di hadapannya. Bukan seperti itu. Demi apapun juga, pasangan yang pengantin yang ada di hadapannya saat ini sama sekali bukanlah mantan kekasihnya. Sang pengantin wanitanya adalah saudara sepupunya, saudara dari pihak ibunya. Bukan hal yang aneh bukan melihat pemuda tertubuh lebih pendek dibandingkan pemuda seusianya ini datang ke pernikahan saudara sepupunya sendiri?

Ia mungkin agaknya iri ketika melihat lagi-lagi—dari sekian banyak sepupunya—menikah. Satu persatu dari saudara-saudara sepupunya melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, dari yang lebih tua darinya bahkan yang jauh lebih muda darinya, sedangkan dia? Sampai detik ini masih melajang. Terdengar menyedihkan kah?

Kitayama—begitu ia biasa disapa—sama sekali bukan seorang pemuda yang tidak laku demi apapun juga. Ia adalah seorang Kitayama Hiromitsu, idol, talent, artist, singer sebuah agensi ternama di Jepang, Johnny's Entertainment, sekaligus merupakan anggota dari grup idol ternama agensi tersebut yang mendebutkan diri mereka tahun 2012 lalu, Kis-My-Ft2. Sebagai seorang idol, tentunya digemari dan dipuja-puja oleh banyak gadis merupakan hal yang sangatlah biasa. Apalagi ia juga merupakan sosok yang selalu terkena spotlight utama, salah satu main singer dalam grup tersebut. Bukanlah hal yang aneh melihat pria yang satu ini memiliki sangat banyak penggemar, terutama penggemar wanita.

Itu merupakan salah satu bukti kalau Kitayama adalah pria yang laku bukan? Lalu kenapa Kitayama Hiromitsu, saat ini usianya sudah beranjak menuju angka tiga puluh satu tahun (yang sayangnya dengan umur sudah kepala tiga tersebut, tingginya tetap saja tidak mampu beranjak dari angka seratus enam puluh tujuh sentimeter), sama sekali belum menikah?

Kata menikah pastinya pernah terbesit dalam pikirannya. Masuk dalam salah satu agenda cita-citanya, hal yang ingin ia capai di masa depan. Selain masalah belum menemukan jodoh yang pas dan sesuai, ijin tentunya belum bisa begitu mudahnya ia dapatkan dari agensinya. Dengan popularitas yang tinggi seperti itu—baik dirinya dan juga grup tempatnya bernaung—mana mungkin agensinya mengijinkannya untuk menikah dalam waktu dekat? Yah, sekalipun umurnya memang sudah menginjak kepala tiga sih.

Pada dasarnya, sebenarnya ia yakin agensi mau saja mengijinkannya menikah, mengingat usianya yang sudah menginjak kepala tiga. Sayangnya, grupnya kini sedang berada di tingkat popularitas yang tinggi. Apalagi grup tersebut baru saja lima tahun umurnya—jika dihitung sejak mereka debut, tentu saja. Andaikan saja umur grupnya sudah sepuluh atau lima belas tahun dengan usianya yang sekarang ini, pastinya agensi mau-mau saja mengizinkannya menikah. Mau menyalahkan usianya yang terlampau tua ketika debut?

Bisa diberikan kesempatan debut saja sudah bersyukur. Tidak mudah untuk melangkah ke tingkat bernama 'debut' dan lepas dari sebutan 'Johnny's Jr.' yang begitu lama menempel pada namanya, tentu saja. Yah, alasan debut terlalu tua tidak bisa dijadikan objek penyalahan.

Lagipula, Kitayama sebenarnya tidak pernah menyalahkan kenapa pada umurnya sekarang ini, ia belum juga menikah. Lihatlah senior-seniornya yang lain. Sudah mau menginjak kepala empat, masih ada yang belum menikah. Hampir menginjak kepala lima, baru menikah. Hal seperti itu sudah sangatlah lazim ketika bernaung dari agensi khusus idol laki-laki seperti Johnny's tersebut. Memang konsekuensinya seperti itu, lalu mau bagaimana?

Bola matanya bergulir, kini memperhatikan sosok dua orang yang dua puluh tahun lebih tua dari dirinya, sedang tersenyum lebar sambil bertepuk tangan, menyelamati dua pengantin yang ada di hadapan mereka. Senyuman pahit pun tampak dari bibir Kitayama, menatap sosok kedua orang tuanya tersebut. Ada satu alasan lain yang mungkin sebenarnya membuatnya ingin menikah. Karena orang tuanya.

Bukan cuma sekali, ia sering memperhatikan bagaimana bahagianya kedua orang tuanya tersebut ketika melihat bayi-bayi yang lewat di jalanan yang sedang mereka lewati, ketika melihat anak kecil yang sedang bermain di taman, atau ketika menggendong bayi-bayi anak dari saudara sepupunya yang telah menikah. Orang tuanya pastilah ingin sekali menimang sendiri cucunya, membantu merawat dan membesarkannya. Andaikan Kitayama memiliki saudara, pastinya saudaranya itulah yang akan lebih dulu memberikan cucu untuk mereka timang dan mereka bantu rawat. Sayangnya, Kitayama anak tunggal. Anak satu-satunya di keluarganya. Otomatis, hanya dia seoranglah yang diharapkan orang tuanya, bukan?

Tidak seperti orang tua lainnya yang sering kali menanyakan "Kapan kamu menikah?" atau "Kapan kamu bawa calon istrimu kesini?" pada anaknya yang masih melajang, kedua orang tua Kitayama jarang mempertanyakan hal tersebut. Pernah sesekali, namun bisa dihitung jari. Kedua orang tuanya sangat mengerti dengan keadaannya saat ini, tentu saja. Mereka sudah mengerti bagaimana memiliki anak seorang idola yang banyak dipuja disana sini, baik kaum hawa maupun kaum adam. Namun bagaimanapun juga, rasa ingin membahagiakan kedua orang tuanya dengan memberikan mereka cucu untuk mereka timang sendiri terus menerus menghantuinya, sekalipun kedua orang tuanya tidak pernah sama sekali menagih hal tersebut.

"Hiromitsu." Satu tangan kini menggapai pundak kanannya, membuat Kitayama menolehkan kepalanya secara reflek pada pemilik tangan tersebut. Kedua manik matanya kini menangkap sosok pria tua, berusia sekitar lima puluh tahunan—yang entah kenapa sudah berpindah posisi tanpa disadarinya—tengah tersenyum kepadanya.

"Kau kenapa? Kok melamun?" ujar pria tersebut padanya. Yang dipanggil Hiromitsu hanya menggeleng pelan, kemudian menjawab singkat sambil mengeluarkan senyuman manisnya. "Tidak apa-apa, Otousan."

"Kau iri melihat mereka menikah? Atau jangan-jangan kau lagi-lagi merasa bersalah pada kami karena kau belum juga menikah?"

Entah kenapa, kata-kata tersebut begitu tepat pada sasarannya. Dan lagi-lagi, kata-kata barusan hanya disahut oleh Kitayama dengan senyuman lebar khasnya.

"Heh, tidak juga sih, Otousan." Berbohong dikit tidak ada salahnya kan?

Sosok yang dipanggilnya sebagai ayah itu hanya bisa membalas senyumannya. "Sudah Otousan bilang, kami mengerti kenapa kau belum menikah. Santai saja. Kami yakin kau pasti menikah kok nanti."

Ada kalanya, Kitayama merasa sangat bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Mereka selalu mengerti dirinya lebih baik dibandingkan yang lainnya. Kalau bukan karena ego merasa berada di tempat umum dan ego kalau dirinya seratus persen merupakan laki-laki dewasa, pastilah saat ini ia sudah memeluk ayahnya erat-erat.

"Eh, sudah boleh ambil makanan. Ayo, kita makan dulu, Tousan!"

Kakinya beranjak sambil mengajak sang ayah menuju meja tempat dimana makanan tersedia. Senyumannya yang tadi sempat terhias oleh senyuman pahit, kini kembali ke senyuman manis yang biasa ia keluarkan setiap harinya.

Baginya, masa depan masihlah panjang. Walaupun mungkin umurnya saat ini sudah tergolong tua, namun ia yakin suatu saat nanti ia bisa memberikan kebahagiaan lebih kepada kedua orang tuanya—lebih dari kebahagiaan materi yang biasa ia berikan. Hanya tinggal menunggu jodoh yang dipilihkan tuhan datang padanya. Ia yakin, jalan Tuhan akan lebih indah dari yang ia harapkan.

Labels: ,

★go earlier★ ★go later★