道 ~Because the road isn't as smoother as you think~ (Prologue)

Sunday, March 3, 2013 @ 6:03 AM | (0) comment/s

~Because the road isn't as smoother as you think~
by fietha


Prologue
Memories



"Ne, ne. Okaachan, orang yang di TV itu siapa sih?"

"Hm? Mereka itu Johnny's, nak!"

"Aaah. Makanannya enak-enak. Ne, ne, Okaachan. Aku mau jadi Johnny's. Aku mau makan enak kayak itu!"


Memori beberapa tahun silam. Ya, ia masih ingat sekali akan kejadian tersebut. Sekalipun banyak sekali memori-memori masa kecil yang agaknya samar dan tidak terlalu diingatnya dengan jelas, namun entah kenapa untuk kejadian itu, ia bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Bagaimana tidak? Setiap kali ada interview yang menanyakan bagaimana kisahnya masuk ke agensi tempatnya bernaung saat ini, tentunya ia akan menceritakan kejadian tersebut bukan?

Ia menghela napas, dalam. Kumpulan-kumpulan berbagai macam memori kini bergumul dengan ramai dalam otaknya. Segala macam kejadian, dari hal yang menurutnya sangat menyenangkan sampai hal yang membuatnya muak dan ingin keluar dari segala rasa menyiksa yang membelenggunya, semua ada di dalam kepalanya. Bukan hal yang mudah, sesungguhnya. Dan bukan juga waktu yang sebentar. Ketika ia menyadarinya, ia ternyata sudah berjalan begitu jauh, begitu lama. Entah kenapa, semua terasa begitu cepat.

Namun kini, rasanya ia ingin sekali mengenang. Mengenang berbagai kisah bagaimana ia bisa berdiri tegak di tempatnya saat ini, bagaimana ia memutuskan mengambil jalan seperti ini, segalanya. Semuanya terkumpul dalam kepingan-kepingan puzzle ingatan dalam kepalanya.

Ia memejamkan matanya. Nostalgia itu, tidak ada salahnya bukan?



tbc.

Labels: ,

Fiksi Fanfic: Future

Sunday, October 28, 2012 @ 5:03 AM | (0) comment/s

Future
by fietha


Kitayama Hiromitsu, tiga puluh satu tahun, hanya bisa tersenyum sambil memandang sosok pengantin berpakaian tuxedo hitam dan dress putih yang berjalan di depannya, ikut berbahagia seperti para undangan yang lainnya. Sesekali ia ikut bertepuk tangan, tersenyum lebar ketika melihat sang pengantin tersebut tersenyum ke arah para undangan. Namun, di antara senyumannya, ada satu perasaan lain—antara sedih, iri atau mungkin perasaan lain yang sejenisnya—yang seakan merasuki perasaannya saat ini.

Oh, bukan. Bukan perasaan seperti ketika seorang pemuda melihat mantan kekasihnya menikah di hadapannya. Bukan seperti itu. Demi apapun juga, pasangan yang pengantin yang ada di hadapannya saat ini sama sekali bukanlah mantan kekasihnya. Sang pengantin wanitanya adalah saudara sepupunya, saudara dari pihak ibunya. Bukan hal yang aneh bukan melihat pemuda tertubuh lebih pendek dibandingkan pemuda seusianya ini datang ke pernikahan saudara sepupunya sendiri?

Ia mungkin agaknya iri ketika melihat lagi-lagi—dari sekian banyak sepupunya—menikah. Satu persatu dari saudara-saudara sepupunya melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, dari yang lebih tua darinya bahkan yang jauh lebih muda darinya, sedangkan dia? Sampai detik ini masih melajang. Terdengar menyedihkan kah?

Kitayama—begitu ia biasa disapa—sama sekali bukan seorang pemuda yang tidak laku demi apapun juga. Ia adalah seorang Kitayama Hiromitsu, idol, talent, artist, singer sebuah agensi ternama di Jepang, Johnny's Entertainment, sekaligus merupakan anggota dari grup idol ternama agensi tersebut yang mendebutkan diri mereka tahun 2012 lalu, Kis-My-Ft2. Sebagai seorang idol, tentunya digemari dan dipuja-puja oleh banyak gadis merupakan hal yang sangatlah biasa. Apalagi ia juga merupakan sosok yang selalu terkena spotlight utama, salah satu main singer dalam grup tersebut. Bukanlah hal yang aneh melihat pria yang satu ini memiliki sangat banyak penggemar, terutama penggemar wanita.

Itu merupakan salah satu bukti kalau Kitayama adalah pria yang laku bukan? Lalu kenapa Kitayama Hiromitsu, saat ini usianya sudah beranjak menuju angka tiga puluh satu tahun (yang sayangnya dengan umur sudah kepala tiga tersebut, tingginya tetap saja tidak mampu beranjak dari angka seratus enam puluh tujuh sentimeter), sama sekali belum menikah?

Kata menikah pastinya pernah terbesit dalam pikirannya. Masuk dalam salah satu agenda cita-citanya, hal yang ingin ia capai di masa depan. Selain masalah belum menemukan jodoh yang pas dan sesuai, ijin tentunya belum bisa begitu mudahnya ia dapatkan dari agensinya. Dengan popularitas yang tinggi seperti itu—baik dirinya dan juga grup tempatnya bernaung—mana mungkin agensinya mengijinkannya untuk menikah dalam waktu dekat? Yah, sekalipun umurnya memang sudah menginjak kepala tiga sih.

Pada dasarnya, sebenarnya ia yakin agensi mau saja mengijinkannya menikah, mengingat usianya yang sudah menginjak kepala tiga. Sayangnya, grupnya kini sedang berada di tingkat popularitas yang tinggi. Apalagi grup tersebut baru saja lima tahun umurnya—jika dihitung sejak mereka debut, tentu saja. Andaikan saja umur grupnya sudah sepuluh atau lima belas tahun dengan usianya yang sekarang ini, pastinya agensi mau-mau saja mengizinkannya menikah. Mau menyalahkan usianya yang terlampau tua ketika debut?

Bisa diberikan kesempatan debut saja sudah bersyukur. Tidak mudah untuk melangkah ke tingkat bernama 'debut' dan lepas dari sebutan 'Johnny's Jr.' yang begitu lama menempel pada namanya, tentu saja. Yah, alasan debut terlalu tua tidak bisa dijadikan objek penyalahan.

Lagipula, Kitayama sebenarnya tidak pernah menyalahkan kenapa pada umurnya sekarang ini, ia belum juga menikah. Lihatlah senior-seniornya yang lain. Sudah mau menginjak kepala empat, masih ada yang belum menikah. Hampir menginjak kepala lima, baru menikah. Hal seperti itu sudah sangatlah lazim ketika bernaung dari agensi khusus idol laki-laki seperti Johnny's tersebut. Memang konsekuensinya seperti itu, lalu mau bagaimana?

Bola matanya bergulir, kini memperhatikan sosok dua orang yang dua puluh tahun lebih tua dari dirinya, sedang tersenyum lebar sambil bertepuk tangan, menyelamati dua pengantin yang ada di hadapan mereka. Senyuman pahit pun tampak dari bibir Kitayama, menatap sosok kedua orang tuanya tersebut. Ada satu alasan lain yang mungkin sebenarnya membuatnya ingin menikah. Karena orang tuanya.

Bukan cuma sekali, ia sering memperhatikan bagaimana bahagianya kedua orang tuanya tersebut ketika melihat bayi-bayi yang lewat di jalanan yang sedang mereka lewati, ketika melihat anak kecil yang sedang bermain di taman, atau ketika menggendong bayi-bayi anak dari saudara sepupunya yang telah menikah. Orang tuanya pastilah ingin sekali menimang sendiri cucunya, membantu merawat dan membesarkannya. Andaikan Kitayama memiliki saudara, pastinya saudaranya itulah yang akan lebih dulu memberikan cucu untuk mereka timang dan mereka bantu rawat. Sayangnya, Kitayama anak tunggal. Anak satu-satunya di keluarganya. Otomatis, hanya dia seoranglah yang diharapkan orang tuanya, bukan?

Tidak seperti orang tua lainnya yang sering kali menanyakan "Kapan kamu menikah?" atau "Kapan kamu bawa calon istrimu kesini?" pada anaknya yang masih melajang, kedua orang tua Kitayama jarang mempertanyakan hal tersebut. Pernah sesekali, namun bisa dihitung jari. Kedua orang tuanya sangat mengerti dengan keadaannya saat ini, tentu saja. Mereka sudah mengerti bagaimana memiliki anak seorang idola yang banyak dipuja disana sini, baik kaum hawa maupun kaum adam. Namun bagaimanapun juga, rasa ingin membahagiakan kedua orang tuanya dengan memberikan mereka cucu untuk mereka timang sendiri terus menerus menghantuinya, sekalipun kedua orang tuanya tidak pernah sama sekali menagih hal tersebut.

"Hiromitsu." Satu tangan kini menggapai pundak kanannya, membuat Kitayama menolehkan kepalanya secara reflek pada pemilik tangan tersebut. Kedua manik matanya kini menangkap sosok pria tua, berusia sekitar lima puluh tahunan—yang entah kenapa sudah berpindah posisi tanpa disadarinya—tengah tersenyum kepadanya.

"Kau kenapa? Kok melamun?" ujar pria tersebut padanya. Yang dipanggil Hiromitsu hanya menggeleng pelan, kemudian menjawab singkat sambil mengeluarkan senyuman manisnya. "Tidak apa-apa, Otousan."

"Kau iri melihat mereka menikah? Atau jangan-jangan kau lagi-lagi merasa bersalah pada kami karena kau belum juga menikah?"

Entah kenapa, kata-kata tersebut begitu tepat pada sasarannya. Dan lagi-lagi, kata-kata barusan hanya disahut oleh Kitayama dengan senyuman lebar khasnya.

"Heh, tidak juga sih, Otousan." Berbohong dikit tidak ada salahnya kan?

Sosok yang dipanggilnya sebagai ayah itu hanya bisa membalas senyumannya. "Sudah Otousan bilang, kami mengerti kenapa kau belum menikah. Santai saja. Kami yakin kau pasti menikah kok nanti."

Ada kalanya, Kitayama merasa sangat bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Mereka selalu mengerti dirinya lebih baik dibandingkan yang lainnya. Kalau bukan karena ego merasa berada di tempat umum dan ego kalau dirinya seratus persen merupakan laki-laki dewasa, pastilah saat ini ia sudah memeluk ayahnya erat-erat.

"Eh, sudah boleh ambil makanan. Ayo, kita makan dulu, Tousan!"

Kakinya beranjak sambil mengajak sang ayah menuju meja tempat dimana makanan tersedia. Senyumannya yang tadi sempat terhias oleh senyuman pahit, kini kembali ke senyuman manis yang biasa ia keluarkan setiap harinya.

Baginya, masa depan masihlah panjang. Walaupun mungkin umurnya saat ini sudah tergolong tua, namun ia yakin suatu saat nanti ia bisa memberikan kebahagiaan lebih kepada kedua orang tuanya—lebih dari kebahagiaan materi yang biasa ia berikan. Hanya tinggal menunggu jodoh yang dipilihkan tuhan datang padanya. Ia yakin, jalan Tuhan akan lebih indah dari yang ia harapkan.

Labels: ,

Fiksi Fanfic: Graduation Thesis

Saturday, July 14, 2012 @ 7:11 AM | (0) comment/s


Graduation Thesis
by Fietha




Heuh.

Satu helaan berat terhembus dari saluran pernapasannya, menatap malas buku-buku arsitektur yang kini berserakan di hadapannya. Boleh dihitung, mungkin ada lebih dari lima buku dengan posisi terbuka pada halaman tertentu berserakan di hadapannya. Tubuhnya bersandar pada bahu kursi yang didudukinya, seakan matanya sudah lelah menatap buku-buku yang ada di hadapannya tersebut. Terutama ketika mengingat, sekalipun buku-buku tersebut sudah ada di hadapannya dalam keadaan terbuka sejak beberapa jam lalu, tidak satupun inspirasi datang padanya, memberikannya satu topik bagi tesis kelulusannya.

Betapa ia sadari berada di tingkat empat sangatlah berat baginya. Terutama ketika dihadapkan oleh suatu syarat kelulusan mutlak yang diwajibkan oleh setiap universitas manapun di dunia ini: tesis kelulusan. Sekalipun ada rasa senang karena sebentar lagi ia akan dapat keluar dari jurang neraka penuh siksaan berbagai macam tugas arsitektur yang mampu membuatnya tidak tidur semalaman, namun tetap saja, rasa senang itu harus tertunda ketika ada satu hal penting yang harus ia kerjakan, tugas paling sulit diantara tugas yang pernah ia dapatkan. Tesis. Apalagi memangnya?

Sudah berulang kali mengunjungi perpustakaan, mengunjungi toko buku ataupun mengunjungi beberapa tempat, menganalisa bangunan-bangunan yang ada disana demi mendapatkan inspirasi akan topik tesis yang akan dia buat, tetap saja ia masih tetap belum menemukan topik atau tema pasti yang akan ia gunakan untuk tugas akhirnya tersebut. Ada beberapa ide yang terpintas dalam benaknya, namun ia masih bingung memilih salah satu diantara ide-ide tersebut ataupun bimbang dalam menentukan tema yang akan ia ambil.

Bukan hal yang mudah dalam membuat tesis miliknya, jujur saja. Ia bukanlah mahasiswa jurusan social science yang mungkin bisa melakukan penelitian secara teoritis dari buku, ataupun melakukan analisis terhadap suatu hal. Bagi mahasiswa arsitektur seperti dirinya, tesisnya adalah berupa sebuah proyek model arsitektur, yang tentunya sangat membutuhkan waktu, tenaga dan juga ide. Bukan hal yang mudah, bukan? Terlebih lagi ketika mengingat ia benar-benar menginginkan lulus tepat waktunya, atau kalau memungkinkan lebih cepat. Dan perlu diingatkan juga bahwa waktunya mungkin akan terpotong sebagian oleh kesibukan pekerjaannya yang semakin hari semakin padat. Ia sungguh-sungguh sama sekali tidak bisa membuang-buang waktu secara percuma.

Waktu adalah uang. Dan bagi seorang seperti dirinya, yang bekerja sebagai seorang idol sekaligus kuliah sebagai mahasiswa arsitektur, waktu merupakan hal yang sangat penting. Kesalahan dalam manajemen waktu bisa mengacaukan jadwal yang sudah susah payah ia atur sedemikian rupa, sehingga ia bisa menjalankan dua pekerjaannya tersebut dengan baik. Namun begitu, tetap saja, dengan waktu yang terus berjalan seperti itu, kenapa ia sama sekali belum bisa menemukan topik yang sesuai?

Kalau boleh ia berharap, mungkin ia ingin sekali bisa lulus tanpa membuat tesis. Seperti anak SMA, lulus hanya dengan mengikuti ujian tulis. Tapi, peraturan tetaplah peraturan. Sayangnya sudah tertulis bahwa tesis merupakan syarat kelulusan dari universitasnya saat ini, mau tidak mau. Yah, mau bagaimana lagi? Suka tidak suka, tetap harus dikerjakan bukan?

Kedua manik matanya kini bergulir perlahan, melirik buku-buku dengan posisi terbuka yang ada di atas mejanya. Tubuhnya sedikit bangkit, lantas tangannya bergerak, menutup satu persatu buku tersebut dan menumpuknya dengan rapi di atas meja. Heuh. Ia kembali menghela napas, berat. Sepertinya hanya sekedar membaca tidak benar-benar bisa memberikannya inspirasi. Mungkin ia harus sedikit berkeliling melihat gedung-gedung menarik yang ada di sekelilingnya, atau mungkin melihat-lihat gambar-gambar bangunan menarik di internet untuk membantunya mengembangkan idenya?

Yah, mungkin ia akan lakukan itu nanti.

Manik matanya kini bergulir ke arah jarum jam yang berada di jam dinding di kamarnya. Ia baru tersadar ternyata waktu berjalan begitu cepat sejak ia membaca buku-buku tadi. Ia pun lantas bangkit, membereskan barang-barang yang diperlukannya dan dimasukkannya ke dalam tas, lantas mengganti pakaian dan mengambil topi kesayangannya. Diambil tasnya tersebut, dan disandangnya di bahunya.

"Hm, kulanjutkan nanti saja lagi. Sekalian nanti lihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada inspirasi."

Ia pun melangkah, keluar dari kamarnya, mengenakan sepatunya, lantas pergi dari rumahnya. Melirik jam tangannya sebentar, lantas memasang ekspresi panik.

"Yabai, kalau aku tidak bergegas, aku bisa terlambat rehearsal!"

Dengan cepat ia pun berlari secepat mungkin, meninggalkan rumahnya, melupakan tesis miliknya sesaat.




Tanpa saya beritahu, sudah tahu kan siapa karakter saya pada cerita ini? =)) Terinspirasi dari kestresan saya mengerjakan skripsi dan juga terinspirasi dari tanya jawab Inoo Kei di majalah DUET dimana... jawabannya memperlihatkan kalau dia desperate abis ngerjain graduation thesisnya. HAHAHA~

Labels: ,

Fiksi Original: Miss You

Tuesday, May 22, 2012 @ 6:56 AM | (0) comment/s


Miss You
by Fietha


Gadis itu terduduk di sebuah kursi, dengan tangan yang berada di bingkai bawah jendelanya, menopang kepalanya yang kini tengah menengadah menatap bulan purnama yang kini tengah bersinar sangat terang. Pikirannya sedikit menerawang, melayang-layang entah kemana, membawa serta lamunannya pergi ke suatu tempat yang sama sekali tak disadarinya. Satu rasa di dalam hatinya begitu membuatnya tertekan, suatu rasa yang membuatnya sedikit berimajinasi, seakan melihat sesosok pemuda di bulan yang tengah bersinar terang tersebut.

Rindu. Gadis tersebut sungguh merindukan sosok pemuda yang kini ada dalam bayangannya, selalu dalam pikirannya, menyertainya dalam lamunannya. Berapa lama ia tak berjumpa dengan pemuda tersebut? Satu hari? Dua hari? Satu minggu? Satu bulan? Rasanya sudah lebih dari yang disebutkan tersebut. Satu tahun? Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Begitu lama bukan?

Kini, kepalanya yang sejak tadi menengadah, ditopang oleh kedua lengannya, memilih tertunduk, menatap hampa tanpa tujuan sesuatu di bawahnya. Matanya yang tadi terbuka kini tengah terpejam, perlahan titik demi titik air matapun mulai turun membasahi wajah cantiknya. Rasa sakit di dadanya kian menekannya, membuatnya lantas mencengkram dadanya sendiri, menganggap dengan melakukan hal tersebut, rasa tersebut akan sedikit menghilang. Tidak, gadis tersebut sama sekali tidak menderita sakit fisik. Mungkin ia hanya menderita suatu sakit psikis yang berkepanjangan—penyakit rindu yang teramat sangat dalam.

Ia pun kemudian memeluk dirinya sendiri, seakan perlahan mengingatkannya akan kerinduannya merasakan pelukan pemuda tersebut. Rindu merasakan belaian, ciumannya, suaranya lembutnya, dan juga wajah tampannya. Kenapa ia harus berada begitu jauh darinya? Kenapa ia harus pergi dan sulit untuk datang kembali? Kenapa ia kala itu begitu rela melepaskannya pergi untuk waktu yang begitu lama, membiarkannya kini hidup dalam kesendirian?

Tidak, gadis itu bukan melakukannya tanpa alasan. Demi yang begitu dicita-citakan oleh pemuda tersebut, ia rela melepaskannya sementara, merantau ke tempat yang sangat jauh. Demi yang diimpikan oleh pemuda tersebut, ia rela menahan segala rasa kerinduannya, menahan semua keinginannya untuk bertemu dengan pemuda tersebut. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunggu. Menunggu sampai pemuda tersebut meraih semua yang dicita-citakan, lantas kembali padanya, memeluknya, menciumnya, menatapnya, demi melepaskan semua rasa rindu yang selama ini begitu tebal menempel pada dirinya.

Ya, menunggu. Intinya, ia hanya harus sedikit lebih bersabar. Ia yakin, dengan kesabarannya, ia pasti akan memperoleh timbal balik yang lebih dari yang diharapkannya. Ini semua hanya masalah waktu bukan? Waktu pasti akan cepat berlalu. Pasti. Dan ia yakin, penantiannya tidak akan sia-sia.


END




Ini hanyalah suatu kisah kecil yang dibuat sang author secara tidak sengaja, terinspirasi dari perasaan sang author yang kini merasa sedikit 'rindu' pada sosok salah satu idolanya. Malas membuat nama siapa sang gadis dan siapa sang pemuda, terserah bagi pembaca ingin membayangkan siapa saja itu—yang jelas ada baiknya tidak usah membayangkan kalau itu kisah antara sang author dengan idola yang dirindukannya—TOLONG JANGAN!

Pendek, sangat pendek. Berhubung sang author saat ini mengalami suatu ketidakmampuan untuk menemukan suatu ide cerita yang bagus. Kenyataannya, ini hanya suatu keisengan belaka yang dibuat sang author hanya karena ia sedang ingin menulis. Hahaha.

Labels: ,